Beban Yang Dihitung Dalam Merencanakan Jembatan

3 Beban Yang Dihitung Dalam Merencanakan Jembatan

3 Beban Yang Dihitung Dalam Merencanakan Jembatan

Secara umum beban – beban yang dihitung dalam merencanakan jembatan dibagi atas dua yaitu beban primer dan beban sekunder. Beban primer adalah beban utama dalam perhitungan tegangan untuk setipa perencanaan jembatan, sedangkan beban sekunder adalah beban sementara yang mengakibatkan tegangan – tegangan yang relatif kecil daripada tegangan akibat beban primer dan biasanya tergantung dari bentang,bahan,sistem kontruksi,tipe jembatan dan keadaan setempat.

Beban primer jembatan mencakup beban mati,beban hidup dan beban kejut.

Berikut ini adalah 3 Beban Yang Dihitung Dalam Merencanakan Jembatan yang wajib anda tahu :

1. Beban Mati

Beban mati adalah semua muatan yang berasal dari berat sendiri jembatan atau bagian jembatan yang ditinjau, termasuk segala unsur tambahan tetap yang dianggap merupakan satu satuan dengan jembatan (Sumantri, 1989:63). Dalam menentukan besarnya muatan mati harus dipergunakan nilai berat volume untuk bahan-bahan bangunan.contoh beban mati pada jembatan: berat beton, berat aspal, berat baja, berat pasangan bata, berat plesteran dll.

Beban Yang Dihitung Dalam Merencanakan Jembatan

Baca Juga : Hanya Ada 1 LPJK Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan

2. Beban Hidup

Yang termasuk dengan beban hidup adalah beban yang berasal dari berat kendaraan-kendaraan bergerak lalu lintas dan/atau pejalan kaki yang dianggap bekerja pada jembatan. Berdasarkan PPPJJR-1987, halaman 5-7, beban hidup yang ditinjau terdiri dari :

a. Beban “T”(Beban lantai kendaraan) Beban “T” merupakan beban kendaraan truk yang mempunyai beban roda ganda (Dual Wheel Load) sebesar 10 ton, yang bekerja pada seluruh lebar bagian jembatan yang dingunakan untuk lalu lintas kendaraan.

b. Beban “D”(Jalur lalu lintas ) Beban “D” adalah susunan beban pada setiap jalur lalu lintas yang terdiri dari beban garis “P” ton per jalur lalu lintas (P = 12 ton) dan beban terbagi rata “q” ton per meter panjang per jalur sebagai berikut:q = 2,2 t/m untuk L < 30 m.q = 2,2 t/m – {(1,1/60) x (L – 30)} t/m untuk 30 m < L < 60 m.q = 1,1{1 + (30/L)} untuk L > 60 m.Ketentuan penggunaan beban “D” dalam arah melintang jembatan sebagai berikut:§ Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan < 5,50 m, beban “D” sepenuhnya (100%) harus dibebankan pada seluruh jembatan.§ Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan > 5,50 m, beban “D” sepenuhnya (100%) dibebankan pada lebar jalur 5,50 m sedangkan lebar selebihnya dibebani hanya separuh beban “D” (50%).contoh beban hidup pada jembatan: beban kendaraan yang melintas, beban orang berjalan dll.

Baca Juga :  Hanya Ada 1 LPJK Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan

3. Beban Kejut

Menurut Anonim (1987:10) beban kejut diperhitungkan pengaruh getaran-getaran dari pengaruh dinamis lainnya., tegangan-tegangan akibat beban garis (P) harus dikalikan dengan koefisien kejut. Sedangkan beban terbagi rata (q) dan beban terpusat (T) tidak dikalikan dengan koefisien kejut. Besarnya koefisien kejut ditentukan dengan rumus:k = 1 + ((20 / (50+L))
Sedangkan Beban Sekunder terdiri dari beban angin,gaya rem, dan gaya akibat perbedaan suhu.

Beban Yang Dihitung Dalam Merencanakan Jembatan


1. Beban Angin

Pengaruh tekanan angin bekerja dalam arah horizontal sebesar 100 kg/cm2. Dalam memperhitungkan jumlah luas bagian jembatan pada setiap sisi digunakan jumlah luas bagian jembata pada setiap sisi digunakan ketentuan sebagai berikut:

  • Untuk jmbatan berdinding penuh diambil sebesar 100% terhadap luas sisi jembatan
  • Untuk jembatan rangka diambil sebesar 30% terhadap luas sisi jembatan.

2. Beban Gaya Rem

Gaya ini bekerja dalam arah memanjang jembatan, akibat gaya rem dan traksi ditinjau untuk kedua jurusan lalu lintas. pengaruh ini diperhitungkan senilai dengan pengaruh gaya rem sebesar 5% dari muatan D tanpa koefisien kejut yang memenuhi semua jalur lalu lintas yang ada dalam satu jurusan.

3. Gaya Akibat Perbedaan Suhu

Perbedaan suhu harus ditetapkan sesuai dengan keadaan setempat. Diasumsikan untuk baja sebesar C dan beton 10. Peninjauan khusus terhadap timbulnya tegangan-tegangan akibat perbedaan suhu yang ada antara bagian-bagian jembatan dengan bahan yang berbeda.

4. Beban Gempa

Untuk pembangunan jembatan pada daerah yang dipengaruhi oleh gempa, maka beban gempa juga diperhitungkan dalam perencanaan struktur jembatan

5. Beban angin

beban angin dihitung pada daerah konstruksi jembatan yang harus menahan beban angin.

Artikel tentang 3 Beban Yang Dihitung Dalam Merencanakan Jembatan ini Semoga Bermanfaat untuk temen-temen pengusaha dibidang jasa konstruksi

Baca Juga :  Solar Panel: Energi Baru Terbarukan yang Menjadi ‘Jawaban’ Dunia

Salam Gapeksindo

Newsletter Updates

Enter your email address below to subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Team Support Gapeksindo Jabar Siap Membantu Anda Tumbuh Bersama Kami!
WeCreativez WhatsApp Support
SBU,SKA,SKTK SUPPORT
Cecep Sugandi
Available
WeCreativez WhatsApp Support
KTA SUPPORT
Diah Permata
Available
WeCreativez WhatsApp Support
PRODUCT SUPPORT/ADMIN SITUS
N-Ariondaru
Available